Katakan Tidak pada Kekerasan terhadap Anak!

sby-kunjungi-korban-gempa-aceh“ Petugas kebersihan sekolah dilaporkan melecehkan bocah usia 6 tahun” (kompas.com – 14 April 2014)

“ Jumlah korban pelaku kekerasan seksual Emon sekitar 140 anak, bahkan bisa jumlahnya bisa mencapai ratusan anak”  (tempo.com – 6 Mei 2014)

“Siswi kelas 3 SDN tewas setelah dikeroyok empat temannya” (tribunnews.com – 5 Mei 2014)

“Santri berusia 16 tahun dipekosa dan Hamil 6 Bulan di Pesantren Tulungagung , Jawa Timur” (okezone.com – 8 Maret 2014)

Pemberitaan di atas bukanlah berita baru tentang kekerasan seksual terhadap anak di Indonesia yang saat ini beruntun muncul diberbagai media massa. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatatkekerasan seksual terhadap anak mengalami peningkatan 30% dari 2012 sampai 2013.

Sebagai partai yang nasionalis dan religius, Partai Demokrat mengecam keras tindakan kekerasan terhadap anak dalam bentuk apapun. Karena, setiap anak berhak mendapatkan perlindungan secara fisik ataupun psikis. Berbasis ideologi partai yang nasionalis, Partai Demokrat percaya bahwa negara harus menjamin dan melindungi setiap warga negaranya dari sikap atau tindakan diskriminatif tanpa membeda-bedakan status sosial, ras, suku, budaya, agama, usia maupun jenis kelamin. Negara menjamin adanya peraturan perundangan dan kebijakan untuk pemenuhan hak anak. Partai Demokrat sebagai partai yang Religius, percaya bahwa melakukan kekerasan seksual, memukul, mengancam, dan bentuk kekerasan lain yang ditimpakan kepada anak adalah perbuatan yang tidak sesuai dengan nilai – nilai Religius karena anak adalah titipan Tuhan yang harus kita jaga dan besarkan dengan baik.

Untuk mencegah terulangnya kekerasan terhadap anak lebih banyak lagi, pelaku kekerasan selain dihukum dengan Undang-undang Perlindungan Anak juga perlu diberikan konseling selama dalam masa tahanan untuk menekan keinginannya untuk berbuat kekerasan lagi. Perkuat mekanisme perlindungan anak, mulai dari rumah, dan perluas kesadaran ke lingkungan sekitar. Tingkatkan alokasi anggaran pemenuhan hak anak. Memasukkan materi pendidikan Kesehatan Reproduksi dan Seksual ke kurikulum sekolah agar anak dapat mengetahui hak-hak mereka. Ajarkan anak untuk kenali, tolak, dan laporkan atas setiap kekerasan. Dorong anak untuk berbicara, dan dengarkan, bukan malah menyalahkan dan menghakimi mereka. Jika perlu ajarkan anak untuk belajar bela diri yang dapat sangat membantu dalam situasi berbahaya. Semoga dengan cara tersebut dapat menjadi langkah kecil untuk menyelamatkan anak-anak dari bahaya yang mengancam dimanapun dan kapanpun mereka berada.sby-ani-yudhoyono

Pada 11 Juni 2014 lalu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga mengeluarkan Instruksi Presiden Nomor 5 Tahun 2014 tentang Gerakan Nasional Anti Kejahatan Seksual Terhadap Anak. Dalam inpres itu, SBY menginstruksikan kepada para menteri, Jaksa Agung, Kapolri, Kepala Lembaga non Pemerintah, Gubernur dan Walikota, untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan sesuai tugas, fungsi, dan kewenangan masing-masing melakukan pencegahan dan pemberantasan kejahatan seksual terhadap anak melalui Gerakan Nasional Anti Kejahatan Seksual Terhadap Anak (GN-AKSA), yang melibatkan seluruh unsur masyarakat dan dunia usaha. Kekerasan terhadap anak wajib diwaspadai oleh orang tua ataupun orang dewasa lainnya. Anak yang mengalami kekerasan akan berdampak psikologis pada korban dan akan sangat berpengaruh pada kehidupannya. Jika tidak ditangani dengan baik, traumatik pada anak akan lebih lama dan berpengaruh pada hubungan sosial nanti ketika dia dewasa.

Mari kita Wujudkan  Indonesia sebagai negara yang layak untuk tumbuh kembang anak sebagai generasi penerus bangsa. Selamat Hari Anak Nasional 2014!

(Sumber: dari berbagai media)